Minggu, 18 Maret 2012

Faktor Faktor Penyebab Gangguan Jiwa

Jadi ternyata faktor penyebab gangguan kejiwaan itu disebabkan oleh 3 faktor yaitu :
1. Faktor Somatogenik (Fisik biologis)
2. Faktor Psikogenik (Psikologis)
3. Faktor Sosiogenik (Sosial-Budaya)

         Nah yang pertama faktor somatogenik ini terdiri dari :
         ►Nerokimia, misal :gangguan pada kromosom no 21 menyebabkan munculnya gangguan perkembangan Sindrom Down 
          ► Nerofisiologi
          ► Neroanatomi
          ► Tingkat kematangan dan perkembangan organik
          ► Faktor-faktor prenatal dan perinatal
 
         Kemudian yang kedua faktor psikogenik terdiri dari :
Interaksi ibu-anak
Interaksi ayah-anak : peranan ayah
sibling rivalry
hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan, dan masyarakat
kehilangan : Lossing of love object
konsep dini : pengertian identitas diri VS peranan yang tidak menentu
tingkat perkembangan emosi
pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya : Mekanisme 
 pertahanan diri yang tidak efektif 
Ketidakmatangan atau terjadinya fiksasi atau regresi pada tahap perkembangannya 
Traumatic Event 
Distorsi Kognitif 
POLA ASUH PATOGENIK : sumber gangguan penyesuaian diri pada anak
    Pola Asuh yang termasuk patogenik itu adalah sebagai berikut :
       1. Melindungi anak secara berlebihan karena memanjakannya 
       2. Melindungi anak secara berlebihan karena sikap “berkuasa” dan “harus tunduk  saja”
3. Penolakan (rejected child)
4. Menentukan norma-norma etika dan moral yang terlalu tinggi
5. Disiplin yang terlalu keras
6. Disiplin yang tidak teratur atau yang bertentangan
7. Perselisihan antara ayah-ibu
8. Perceraian
9. Persaingan yang kurang sehat diantara para saudaranya
10. Nilai-nilai yang buruk (yang tidak bermoral)
11. Perfeksionisme dan ambisi (cita-cita yang terlalu tinggi bagi si anak)
12. Ayah dan atau ibu mengalami gangguan jiwa (psikotik atau non-psikotik)

Dan yang terakhir faktor sosiogenik yang terdiri dari :
Tingkat ekonomi
Lingkungan tempat tinggal : perkotaan VS pedesaan
Masalah kelompok minoritas yg meliputi prasangka, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan yang tidak memadai
pengaruh rasial dan keagamaan
Nilai-nilai 
 
Referensi : Slide Materi Perkuliahan Abnormal Zarina Akbar, Psikologi UNJ 
 
 
 
 
 
 

Minggu, 04 Maret 2012

Social Phobia

Clinical case studies
Sharon L. Feeney
New york Presbyterian Hospital, Weill Cornel Medical Center

Abstract
Mary berusia 35 tahun, menikah, seorang wanita kaukasian yang menjalani penyembuhan dari masalah kecemasan dan panik dalam situasi :  menulis didepan umum atau orang lain,  dalam situasi kerja, dan pergi kerumah sakit. Ketika dalam situasi ini mary merasa gelisah dan tidak nyaman, sehingga dia merasa dipermalukan dan merasa malu. Karena ketakutannya ini, mary menghindari berbagai situasi tersebut karena merasa sangat cemas dan gelisah. Mary di diagnosis mengalami social phobia dan sudah menjalani 31 sesi terapi individu dan terapi kognitif behavior. Treatment yang dijalani adalah self monitoring, latihan pernapasan, dan gtaduated eksposure. Setelah diberi treatment, mary tidak lagi memenuhi kriteria social phobia dan menunjukan perbaikan termasuk dalam menurunkan pengalaman subjektif mengenai kecemasan, tindakan menghindar berkurang dan berkurangnya gejala fisiologis berkaitan dengan kecemasan. Kasus ini disajikan sebagai contoh penggunaan prinsip cognitive behavior dalam treatment social phobia.

Summary case
Mary mengeluhkan bahwa dirinya mengalami kecemasan dan ketakutan, dia mengalami gejala seperti gemetar, jantung bertebar, keringat ketika dalam situasi yang mengancam bagi dirinya. Ada 3 situasi yang sangat membuatnya cemas yaitu:  menulis didepan umum atau orang lain,  dalam situasi kerja, dan pergi kerumah sakit. Karena situasi ini dia merasa malu karena simtom fisilogisnya muncul. Mary sangat menhindari situasi tersebut, oleh karena itu dia tidak pernah menulis nama ataupun tanda tangan di depan umum selama 12 tahun dan tidak pernah membawa anaknya kedokter.
Menurut kisahnya, Mary mengalami ketakutan dan gejala kecemasan setelah ia putus dengan kekasihnya yang telah 4 tahun menjalin hubungan dengannya. Kekasihnya memiliki wanita lain dan ingin melanjutkan hubungannya dengan wanita tersebut. Ini adalah episode yang paling menyakitkan dalam hidup Mary. Mary mengalami depresi selama 1tahun. Mary sangat tertekan dan sulit menjalani aktivitasnya sehari-hari. Berat badannya berfluktuasi dengan cepat, sulit tidur, sakit kepala, dan sulit konsentrasi.
Ketika mary berada dalam situasi yang mengharuskan dia menulis didepan umum dan dalam situasi kerja dia mengalami gemetar, detak jantung kencang, dan berkeringat, menurutnya pertama kali dia merasakan hal ini adalah ketika sehari setelah putus dengan kekasihnya dia menandatangani struk kartu kreditnya, dan dia merasa takut dilihat orang dan berpikir apa yang terjadi dengannya. Karena kejadian ini Mary menghindari menggunakan kartu kreditnya agar tidak perlu tanda tangan di depan umum dan dia selalu membayar cash ketika berbelanja.
Ketika hamil yang mengharuskan mary ke dokter, dia mulai merasakan tanda kecemasan ketika berada di ruang tunggu seperti gemetar, berkeringat, detak jantung kencang. Dan dia merasa setiap orang yang ada disekitarnya melihat dan berpikir bahwa dirinya idiot. Ketika di cek dokter ternyata tekanan darah mary tinggi dan dokter mengirimnya kerumah sakit atau dia akan kehilangan anaknya. Mary merasa cemas dan distress karena ia harus bolak balik kerumah sakit karena tekanan darahnya. Menurutnya ini adalah pengalaman yang sangat memalukan dan ia menghindari untuk pergi ke rumah sakit. Mary juga enggan memiliki anak lagi karena ia sangat menghindari dokter.
Mary adalah anak yang pemalu, pendiam dan mudah gugup. Peran ibu lebih dominan dibandingkan ayahnya. Ibunya sangat protective kepadanya, dan sangat memegang kendali sosial agar mary tidak merasa canggung.
Mary memiliki sedikit teman dekat dari kecil hingga dewasa. Dia tidak pernah berkencan hingga usia 16 tahun dan dia tidak memiliki kekasihhingga usia 20 tahun. Joe adalah pacar pertamanya, ia menjalin hubungan selamat 4 tahun. Mary sangat mencintai joe, menurutnya joe adalah sosok yang menyenangkan, atletik dan sangat atraktif. Dan ketika itu mary adalah sosok yang energik dan percaya diri. Mary mengalami pengalaman seksual pertama dengannya. Namun, setelah 4 tahun, joe meninggalkannya hanya untuk wanita lain. Setelah itu mary tidak pernah berkomunikasi dengannya lagi dan menghindari untuk bertemu joe. Dari sinilah symptom kecemasan itu bermulai.

Analysis 
Berdasarkan DSM IV TR  Mary mengalami social phobia. Mary cenderung menghindari situasi-situasi sosial dan mengalami ciri-ciri patologis kecemasan diantaranya berkeringat, gemetar, detak jantung kencang, merasa terancam dan merasa dipermalukan oleh diri sendiri sehingga dia merasa tidak nyaman dengan keadaannya tersebut. 
  • Disfungsi psikologis yaitu individu abnormal tidak dapat menjalankan perannya sesuai dengan 3 kriteria yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Secara kognitif : Mary merasa terancam ketika berada dalam situasi sosial, dia merasa bahwa orang menganggap dirinya idiot, ada yang salah pada dirinya. Pikiran-pikiran itu yang terus terbesit dalam benaknya sehingga dia selalu menghindari situasi sosial. Secara afektif : Mary merasa tertekan, malu dan merasa tidak nyaman ketika harus menulis didepan umum dan pergi kedokter. Hal tersebut merupakan dampak dari depresinya ketika harus ditinggalkan oleh kekasihnya. Secara psikomotor : Mary menghindari aktivitas yang menurutnya mengancam yaitu menulis di depan umum atau orang lain, pergi kedokter dan dalam situasi kerja. Mary juga merasa gemetar, berkeringat dan detak jantung kencang ketika berada dalam situasi-situasi tersebut.
  • Distress (impairment) yaitu individu yang abnormal menunjukan sikap "merusak" diri baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik : Mary mengalami depresi yang membuat berat badannya berfluktuasi dengan cepat (naik dan turun dengan cepat), sakit kepala, kesulitan tidur. Secara psikis : Mary merasa sangat malu, hancur, dan sakit dengan apa yang ia alami. Yang akhirnya berujung pada simtom kecemasan yang dialaminya, sehingga mengganggu aktivitasnya sehari-hari.
  • Respon atipikal yaitu respon yang tidak sesuai dengan sosio kultural. Mary merasa takut dan cemas ketika berada dalam situasi yang mengharuskannya menulis atau tanda tangan, hal ini tidak sesuai dengan budaya sekitar karena sangat wajar seseorang melakukan hal itu tapi tidak dengan mary. Mary menghindari untuk pergi ke dokter karena kecemasan dan ketakutannya tersebut, padahal untuk orang yang sakit itu perlu kedokter untuk menyembuhkan penyakitnya. Mary selalu menghindari tempat-tempat umum, karena ia merasa terancam dan gemetar ketika berada di tempat tersebut.

Referensi : Feeney, Sharon L, The Cognitive - behavioral Treatment of Social Phobia. New york Presbyterian Hospital, Weill Cornell Medical Center

Sabtu, 03 Maret 2012

Apa bedanya Sign, Symtom, dan Syndrom ???

Kita sering dengar 3 kata tersebut kan? sign, symtom dan syndrome, sebenernya apa sih perbedaannya? yuk mari kita bahas :D
Yang pertama Sign (tanda) yang artinya gejala objektif yang didapat dari hasil observasi yang dilakukan oleh psikolog atau psikiater. contohnya : afek yang terbatas, retardasi psikomotorik.
Symtom adalah pengalaman subjektif yang digambarkan oleh pasien. contoh : mood yang tertekan, dan berkurangnya tenaga.
Nah syndrome adalah Fungsi symtom yang terjadi atau kumpulan - kumpulan dari symtom yang muncul secara bersama-sama. Contoh : Afek disforik dan commit suicide (syndrome depresif), Halusinasi dan delusi (waham) (syndrome skizofrenia).

Nah, semoga dari ringkasan materi kuliah yang saya dapatkan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Referensi : Kuliah psikologi abnormal tanggal 26 februari 2012. Psikologi, Universitas Negeri Jakarta

Gejala Gangguan Kejiwaan

1.   Tingkah laku
·         Gerakan badan : Jika sering melakukan gerakan berulang-ulang.
·         Katatonia     : Stupor (patung), biasanya terjadi pada penderita scizofrenia (F20). Penderita diam dan tidak bergerak seperti patung.
·         Kompulsi    : Repetitif, yaitu melakukan kegiatan berulang ulang, seperti pada OCD (Obsesive compulsif disorder).
2.  Orientasi X Disorientasi
·         Waktu            : Penderita yang mengalami disorientasi waktu akan mengingat tanggal sekarang menjadi tanggal yang membuat dirinya traumatis. Misalnya, sekarang tanggal 4 maret 2012, tapi dia yakin bahwa sekarang tanggal 1 januari 1995. Kemungkinan dia mengalami traumatis pada tanggal 1 januari 1995.
·         Tempat     : Penderita yang mengalami disorientasi tempat akan selalu mengingat tempat yang membuat dia traumatis. Misalnya, setting dirumah sakit jiwa tapi penderita bilang bahwa ini adalah hotel bintang 5 yang sangat bagus.
·         Identitas    : Penderita mengalami disorientasi identitas dirinya, misalnya namanya rani tapi ketika ditanya dia mengaku bernama rihana.
3.  Isi pikiran
·         Obsesi adalah pikiran dan bayangan yang repetitif yang tidak dikehendaki yang masuk dalam kesadaran individu.
Obsesi sering dikaitkan dengan kompulsi (Pikiran mempengaruhi perilaku yang berulang ulang)
·         Delusi (waham) adalah keyakinan (believe) terhadap sesuatu yang tidak adekuat atau kesalahan terhadap persepsi yang tidak adekuat yang tidak dapat dikoreksi. Contoh waham grandeur yaitu seolah-olah bahwa dia adalah tokoh terkenal.
4.  Gaya berpikir
·         Tidak logis dan tidak sistematis.
·         Gangguan berpikir yang dapat dilihat dari cara berpikir/bahasa yang digunakan.
5.  Afek dan suasana hati
·         Mood (suasana hati) adalah perasaan subjektif yang tidak bertahan terlalu lama. Jenis mood ada 2 yaitu : disforik dan euforik.
Disforik : Melankolis, sedih, memelas dan mengacu pada depresi.
Euforik : Senang, gembira, heboh dan mengacu pada manik.
Depresi + Manik = Bipolar (Gangguan Afektif).
·         Emosi adalah perpaduan mood dan afek.
·         Afek adalah ekspresi emosi.
Emosi dan afek tidak saling mempengaruhi, banyak orang yang emosinya sedih tetapi afeknya senang hanya untuk menutupi emosinya.
6.  Pengalaman persepsi
·         Halusinasi adalah kesalahan persepsi proses penginderaan terkait dengan indra peraba (taktil), olfaktori , pendengaran yang tidak dapat dikoreksi.
·         Ilusi adalah kesalahan persepsi. Contoh ketika pulpen dimasukan kedalam gelas yang berisi air maka seolah-olah pulpen tersebut bengkok atau patah, ini terjadi karena ilusi.
Perbedaan halusinasi dengan ilusi adalah halusinasi terjadi pada orang abnormal sedangkan ilusi pada orang normal.
7.  Perasaan diri
·         Depersonalisasi adalah Keadaan dimana seseorang merasa ada sesuatu bagian tubuhnya yang lepas atau hilang.
·         Kekacauan Identitas adalah kepribadian ganda (multiple personality).
8.  Motivasi (rendah atau tinggi)
9.  Inteligensi (rendah atau tinggi)
10.Tilikan diri (insight)
Misalnya ketika ditanya kenapa kamu masuk rumah sakit (RSJ) ?
·         insight buruk : karena keluarga saya yang memasukan kesini, saya dikucilkan dirumah sehingga saya dimasukan kesini. Ini berarti Insightnya masih buruk dan masih butuh penanganan.
·         insight baik : karena saya sakit sehingga saya butuh perawatan agar bisa sembuh. Ini sudah mulai memahami bahwa dia sakit sehingga insightnya sudah membaik.




Referensi : Kuliah psikologi abnormal tanggal 26 februari 2012. Psikologi, Universitas Negeri Jakarta


Minggu, 26 Februari 2012

Kasus Babe Sodomi dan Pedofilia

Analisa Kasus Babe "Sodomi" dan "Pedofilia 

Baekuni, Putus Sekolah dan Pernah Disodomi
 
Semanggi, Warta Kota
Kehidupan masa kecil Baekuni alias Babeh (48), pelaku mutilasi tujuh bocah di wilayah hukum Polda Metro Jaya, sangat suram. Baekuni anak ke11 dari 12 bersaudara. Orangtuanya mencari nafkah sebagai petani di kampung halamannya di Magelang, Jawa Tengah.
Baekuni kecil tidak pandai bersekolah. "Di rumah dia selalu dimarahi karena kebodohannya. Maka sekolahnya cuma sampai kelas tiga SD," ucap Profesor Sarlito Wirawan seusai memeriksa kondisi kejiwaan Baekuni di Polda Metro Jaya, Kamis (14/) siang.
Singkat cerita di tahun 1992, saat berusia 12 tahun, Baekuni hengkang dari rumah orangtuanya dan hijrah ke IbuKota. Di sinilah Baekuni merasakan kerasnya hidup. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Baekuni mencari nafkah menjadi pengamen di wilayah Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Sebagai anak jalanan Baekuni banyak menemukan kerikil tajam. Pernah kuni, pada suatu malam, kasta Baekuni, dia disodomi oleh seorang pria dewasa. Saat itu Baekuni berusaha menolak. Namun usahanya sia-sia. Dia malah disekap dan diancam dengan pisau. Peristiwa itu sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup Baekuni selanjutnya.
Baekuni berusaha lepas dari pria itu. Di Lapangan Banteng, dia bertemu dengan seseorang yang bernama Cuk Saputra. Saputra yang berjualan rokok lalu mengajak Baekuni ke kampung halamannya di Kuningan, Jawa Barat. Di Kuningan, Baekuni diajak bekerja ngangon (menggembala) kerbau.
Cukup lama Baekuni tinggal di rumah Saputra. Baekuni kemudian dijodohkan Saputra dengan saudaranya yang bernama Saerah alias neng Era. Di usia ke-21 tahun, Baekuni akhirnya resmi menikah dengan Era. Tidak seperti suami-suami lainnya, Baekuni selalu tidak bergairah terhadap istrinya.
Jika diajak berhubungan intim, Baekuni selalu menolak karena tidak bisa ereksi. Suatu ketika, lantaran sakit keras yang dideritanya, Era meninggal dunia. Selepas ditinggal mati oleh istrinya, Baekuni akhirnya memilih hijrah ke Jakarta untuk yang kedua kalinya.
Di Jakarta, Baekuni, yang saat itu berusia 37 tahun, terkenal dengan panggilan Babeh. Sehari-hari dia berjualan rokok di depan Pulogadung Trade Center. Julukan Babeh muncul lantaran Baekuni sangat dekat dan sayang kepada anak-anak jalanan yang usianya 6 sampai 12 tahun.
Bagi anak-anak jalanan yang pernah diasuhnya, Babeh sudah seperti orangtua mereka. Dia sangat mengayomi, merawat, dan mengasuh anak-anak jalanan itu dengan penuh kasih sayang.
Warga yang tinggal di dekat kontrakan Babeh di Jalan H Dalim Gang Masjid RT 06/02, Pulogadung, Jakarta Timur, pun memandang Babeh seorang yang lemah gemulai, sabar, dan pintar masak.
Namun, siapa sangka di balik gayanya yang lemah gemulai dan terlihat santun itu, ternyata Babeh memiliki kelainan orientasi seksual dan berperilaku sadis. Warga tak mencurigai sama sekali terhadap Babeh dan menganggap biasa jika dia dekat dengan anak-anak jalanan.
Kini terkuak sudah siapa sebenarnya Babeh itu. Pascapenemuan potongan tubuh bocah korban mutilasi di pinggir Jalan Raya Bekasi Km 27, Kelurahan Ujungmenteng, Cakung, Jumat (8/1) lalu, polisi akhirnya berhasil mengungkap kasus tersebut dan menangkap Babeh sebagai pelakunya. Proses penangkapan Babeh sangat cepat, kurang dari 24 jam. Ini berkat laporan keluarga Ardiansyah, korban mutilasi. (Dedy)

Berikut profil lengkap babe yang saya ambil dari VIVAnews :

VIVAnews - Namanya singkat. Baekuni. Lahir di Magelang, Jawa Tengah, pria tinggi kekar ini membuat kita semua merinding sepekan terakhir. Dia mengaku telah membunuh tujuh anak jalanan.
Semuanya berumur di bawah 12 tahun. Dan ini yang bikin seram, tiga diantaranya dimutilasi pakai golok. Mereka adalah anak jalan yang berada di daerah Jakarta Timur.
Sejumlah kabar menyebutkan bahwa lantaran takut mendengar kisah si Baekuni ini, kawasan Terminal Pulogadung kini sepi dari anak-anak jalanan. Mereka ngeri membayangkan keganasan pria yang akrab disapa babe itu.
Tapi siapa si babe ini? Tak banyak yang tahu. Informasi tentang jati dirinya dan riwayat masa kecilnya cuma sedikit yang terkuak. Sarlito Wirawan, Psikolog Universitas Indonesia, yang bertemu dengan babe di rumah tahanan Polda Metro Jaya mengisahkan kepada wartawan ihlwal jati diri si Baekuni ini.
Babe lahir di Magelang. Ayahnya seorang petani.Masa kecilnya memang tidak bahagia. Selalu diolok-olok teman-teman sekolah, lantaran tidak pernah naik kelas. Karena tidak naik kelas itu, Baekuni "tamat" di kelas 3 SD.

Lalu dia kabur sendirian ke Jakarta, pada usia yang masih sangat belia untuk merantau, 12 tahun.  Di ibukota dia menggelandang di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Untuk makan-minum sehari-hari dia mencari uang dengan mengamen.
Anak belia terjun ke dunia yang kelam. Baekuni mengalami hampir semua kekejaman jalanan. Dia juga pernah disodomi. "Waktu itu dia menolak tapi karena dipaksa tidak bisa melawan," ujar Sarlito, melalui surat elektronik yang diterima VIVAnews, Kamis 14 Januari 2010.

Setelah itu, Babe bertemu seseorang bernama Cuk Saputra, dia kemudian dibawa ke Kuningan, Jawa Barat dan diminta untuk memelihara kerbau.

Di Kuningan itulah dia bersua dengan jodohnya. Seorang wanita yang sangat dicintainya. Dia menikah umur 21 tahun. Tapi jiwa dan raganya dipenjara trauma. Dan mohon maaf, si Baekuni mengaku tidak mampu berhubungan --layaknya suami istri- hingga wanita yang dicintainya itu meninggal dunia.
Ditinggal mati sang istri, Babe kemudian kembali lagi ke ibukota. Menjajal lagi Jakarta yang sulit. Dia memulai hidupnya di kawasan Terminal Pulogadung. Menjadi penjual rokok dan memelihara anak jalanan.

Di sanalah harsat seksual yang menyimpang kian menjerat Baekuni. Bila hasrat seksualnya datang, dia tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Cukup mengambil satu dari anak-anak jalanan yang dipeliharanya. Belakangan tidak cuma seks yang menyimpang, dia juga membunuh 7 dari anak-anak itu.

Semua  kasus pembunuhan yang dilakukan Babe polanya selalu sama, bila mereka menolak diikat dengan tali rapia. Setelah mati baru berhubungan seks dan korban dimutilasi untuk menghilangkan jejak.

"Tiga korban dimutilasi dan empat korban pembunuhan biasa," ujar Sarlito lagi.

Babe juga mengaku bahwa hanya tujuh kali melakukan hubungan seksual dan hanya dilakukan dengan korbannya. Dia juga tidak pernah mengalami mimpi basah. Sementara Adi, salah satu korbanya telah dirawat selama enam bulan oleh Babe.

"Jelas dia homoseks bawaan, bukan jadi-jadian. Dia hanya bisa ereksi pada sesama jenis," katanya.

Dengan prilaku seperti ini, Babe bisa dikatakan sebagai penderita pedofil, karena selalu melakukan dengan anak di bawah 12 tahun.

Babe juga pengidap ganguan mikrofili atau berhubungan seks dengan mayat, walaupun itu terpaksa. Pelaku adalah dampak dari gambaran  kemiskinan. Namun tidak bisa dibilang psikopat.

"Itu terlalu cepat bilang psikopat. Ada 23 kriteria untuk mendiagnosa psikopat," ujar Sarlito.

Atas perbuatannya ini, pelaku dapat menjalani proses dan persidangan karena tidak mengalami gangguan jiwa. Dia selalu melakukan pembunuhan itu secara sadar.
• VIVAnews

Dari data tersebut maka saya akan mencoba menganalisi apakah babe termasuk normal atau abnormal, berikut analisis saya :

Disfungsi Psikologis
Kognitif :
Secara inteligensi babe memiliki inteligensi yang rendah, sehingga ia selalu dimarahi oleh orangtuanya akibat kebodohannya. Babe memiliki memori pahit yang ia alami semasa kecil, ia selalu dimarahi karena kebodohannya dan ia juga merupakan korban sodomi seorang pria dewasa. Hal tersebut merupakan pengalaman traumatis yang dialami babe dan sangat mempengaruhi kehidupan psikologisnya hingga saat ini.
"Dari pemeriksaan psikologis terhadap Babe, yang dilakukan ahli psikologi Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono, Kamis 14 Januari 2010 kemarin, dalam melumpuhkan korbannya Babe selalu memiliki pola yang tidak pernah berubah-ubah. Dia akan memilih korbannya dari luar anak-anak jalan yang dia pelihara. Dari pemeriksaan itu terkuak tujuh pembunuhan yang dilakukan Babe dengan pola yang sama. Kecuali Ardiansyah, korban terakhirnya yang merupakan anak yang dipeliharanya sendiri. Seluruh anak jalanan yang dekat dengan Babe hampir tidak pernah disentuh sejak 2007. Meskipun Sarlito mengatakan bahwa Babe termasuk pedofilia atau menyukai anak-anak."
Menurut pengacara korban, Haposan Hutagalung mengatakan jika memang korban Babe bukan dari anak asuhnya. Biasanya babe sudah melihat jika ada anak jalanan yang menjadi tergetnya, dia akan merawatnya dan korban akan dapat perlakukan istimewa. Babe selalu memilih anak-anak jalanan yang bersih, berparas ganteng dan biasanya korban babe adalah teman-teman dari anak asuhnya.

Afektif :
Di usianya yang menginjak 12 tahun babe merasa tidak nyaman tinggal bersama orangtuanya, oleh karena itu dia pergi dan hidup keras di ibu kota. Ia di panggil dengan sebutan babe ketika berusia 37 tahun, karena ia sangat mengayomi anak-anak kecil, babe merawat anak-anak asuhnya sendiri bahkan dia juga sering memasak untuk anak-anak asuhnya. Menurut tetangga babe juga termasuk sosok yang ramah dan santun, ia selalu menyapa ketika bertemu dengan tetangga, bahkan mereka tidak menyangka bahwa babe adalah pelaku sodomi dan mutilasi. Namun dibalik sosoknya yang santun dan sopan ternyata babe memiliki penyimpangan seksual yaitu pedofilia dan homoseksual. Dalam suatu berita yang dilansir dari vivanew.com babe menyebutkan bahwa dia merasa puas ketika selesai melakukan sodomi dan mutilasi korban.
Babe yang merupakan korban sodomi ketika kecil menjelma menjadi sosok dewasa yang melakukan hal yang sama bejatnya akibat timbunan dendam, sakit hati dan emosi-emosi negatif yang ia rasakan dulu yang menumpuk dalam psikisnya. Dan pada akhirnya ia menjadi pelaku sodomi dan mutilasi korban.


Konatif :
Selain memiliki pola memilih dari luar kelompoknya, Babe juga melakukan pola yang sama saat melakukan tindakan memutilasi tersebut. "Kompulsinya dia ikuti pola teratur, dia awalnya ajak korban ke kamar mandi untuk mandi, ketika mau hubungan seks lalu ditolak, setelah di tolak lalu dia ikat pakai tali rafia, kemudian dilakukan hubungan seks dengan cara di sodomi, dia selalu gunakan kardus membuang mayat setelah di mutilasi lalu dibuang ketempat ramai supaya ditemukan orang dan dikubur," jelas Sarlito.

Distress (impairment)
Babe memiliki banyak emosi negatif yang membuatnya berubah menjadi seorang pelaku sodomi dan mutilasi. Mulai dari kehidupan masa kecilnya yang kurang bahagia karena sering di cemooh oleh teman-temannya dan orangtuanya yang sering memarahinya. Bahkan diusianya yang 12 tahun dia sudah hidup sendirian di jakarta dengan modal mengamen. Kerasnya kehidupan anak jalanan yang dia alami membentuknya menjadi pelaku sodomi dan mutilasi yang kejam. Namun babe tidak melakukan hal-hal yang merusak fisik ataupun psikisnya. Bahkan babe dalam kondisi sadar ketika membunuh korbannya.

Respon Atipikal
Sebagai seorang anak berusia 12 tahun baekuni seharusnya masih mengenyam pendidikan, hanya saja karena keterbatasan kognitif yang ia miliki ia putus sekolah, dan menjadi seorang pedagang asongan dan pengamen. Di usia segini juga seharusnya baekuni masih dalam bimbingan orangtua sehingga bisa merasa aman dan nyaman. Namun ia memutuskan untuk pergi dari rumah dan pada akhirnya menjadi korban sodomi oleh pria dewasa yang menjadikan pengalaman traumatis bagi diri baekuni. Ketika baekuni menikah ia tidak bisa melayani istrinya secara seksual, ia selalu menolak bila diajak karena ia tidak bisa ereksi. Sebagai seorang suami baekuni tidak bisa menjalankan perannya.


Dari analisis diatas maka dapat disimpulkan bahwa babe normal, karena pada aspek Distress babe tidak melakukan hal-hal yang merusak dirinya ataupun psikologis. Dan menurut Sarlito, babe bukanlah psikopat dan tidak mengalami gangguan kejiwaan.

Referensi :
Akbar, Zarina. 2012. Slide Psikologi abnormal. Psikologi. UNJ 
(http://metro.vivanews.com/news/read/121518-jawaban_babe_soal_seks_menyimpangny)
 http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=16230
 http://www.wartakota.co.id/read/news/

Sabtu, 25 Februari 2012

Analisis kasus 1

 Case 1 :
 Seorang ibu mengeluhkan tentang putra remajanya (R) yang duduk di kelas 2 SMA. Menurut ibunya, R tidak bertanggung jawab karena ia tidak mau tahu apa yang terjadi diluar kamar tidurnya (yang terletak di lantai dua). Tiap pulang sekolah R masuk kamar, dan hanya keluar untuk makan atau keperluan pribadinya. Ia tidak mau mengatantar adiknya ke dokter, dan tidak peduli apakah ada tamu atau keluarga yang datang berkunjung.
Analisis :
Ada 3 aspek yang merupakan syarat mutlak yang menentukan apakah seseorang mengalami abnormalitas, yaitu :
Disfungsi Psikologis : menjalankan peran/fungsi dalam kehidupan ; integrasi aspek kognitif,afektif,konatif/psikomotorik
Distres ; Impairment (Hendaya) menunjukkan pada keadaanmerusakdirinya baik secara fisik or psikologis
Respon Atipikal (Secara Kultural Tidak Diharapkan Reaksi yang TIDAK sesuai dengan keadaan sosio kultural yang berlaku.
Disfungsi psikologis :
     Dari segi kognitif : R tidak mau tahu apa yang terjadi diluar kamarnya, dia hanya keluar kamar hanya ketika untuk memenuhi keperluannya.
      Dari segi afektif : R Tidak peduli apakah ada tamu atau keluarga yang datang berkunjung.
      Dari segi konatif : R tidak mau mengantar adiknya ke dokter,dan tiap pulang sekolah dia langsung masuk kamar dan acuh kepada kegiatan diluar kamarnya.

Distress (Impairment) :
     R tidak menunjukan ada indikasi kalau dia merusak dirinya baik fisik maupun psikisnya, diusianya yang masih tergolong remaja R merasa tidak terlalu memiliki tanggung jawab besar dirumahnya, sehingga dia lebih merasa nyaman menyendiri. Dan mungkin memang kepribadian R yang malas, sehingga dia lebih memilih tidak peduli dan seolah tidak mau tahu.

Respon Atipikal :
     Sebagai seorang anak dan kakak seharusnya R bisa lebih bertanggung jawab sesuai dengan perannya. Sebagai kakak seharusnya R mau mengantarkan adiknya ke dokter karena ini adalah bentuk rasa peduli seorang kakak terhadap adiknya. Tetapi R tidak menunjukan hal tersebut. Dan sebagai anak R seharusnya bisa membantu orangtuanya dan tidak sekedar pulang sekolah, masuk kamar, makan, kemudian masuk kamar lagi. Sebagai remaja seharusnya R bisa membangun hubungan sosial terlebih lagi dengan keluarganya.

     Berdasarkan analisis dari ketiga aspek tersebut maka dapat disimpulkan bahwa R Normal, R memiliki kepribadian introvert dan cenderung pemalas. Hal ini merupakan hambatan psikologis dan bukan merupakan gangguan psikologi. 



Referensi :
Akbar, Zarina. 2012. Slide Psikologi abnormal. Psikologi. UNJ